Manajemen Mutu Pendidikan Agama Islam di Sekolah Islam Terpadu

Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi salah satu pilar penting dalam membentuk generasi yang cerdas sekaligus berkarakter. Kesadaran itulah yang mendorong SD IT Iqra’ 1 Kota Bengkulu menerapkan sistem manajemen mutu pendidikan agama Islam secara terstruktur. Langkah ini tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dalam penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa sekolah ini berupaya menerapkan manajemen mutu secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi. Kepala sekolah, guru, hingga siswa dilibatkan aktif dalam setiap proses untuk memastikan tujuan pendidikan tercapai sesuai standar. Perencanaan: Menetapkan Visi dan Standar Mutu Perencanaan manajemen mutu PAI dimulai dengan penetapan visi, misi, dan standar kualitas pembelajaran. Standar ini mencakup kompetensi siswa baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Artinya, siswa tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga menghayati nilai-nilai spiritual dan mengamalkannya. Selain itu, sekolah juga menyusun kurikulum PAI yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum ini tidak hanya menekankan pada hafalan, melainkan mendorong siswa untuk menginternalisasi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) juga menjadi bagian penting agar proses belajar berlangsung efektif, kreatif, dan interaktif. Pengorganisasian: Semua Pihak Terlibat Tahap berikutnya adalah pengorganisasian. Dalam hal ini, peran kepala sekolah menjadi sangat vital. Kepala sekolah tidak hanya bertugas sebagai manajer pendidikan, tetapi juga motor penggerak yang memastikan visi sekolah berjalan sesuai nilai-nilai keislaman. Wakil kepala sekolah bidang kurikulum memiliki tugas memastikan kegiatan akademik dan keagamaan berjalan selaras. Guru PAI, sebagai ujung tombak, dituntut kreatif dalam mengajar dengan pendekatan yang variatif, serta mampu menggunakan teknologi pembelajaran. Tak kalah penting, siswa juga diberi peran aktif. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga ikut serta dalam kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, tahfidz Al-Qur’an, hingga kegiatan sosial keagamaan. Pelaksanaan: Kurikulum, Kompetensi Guru, dan Budaya Mutu Dalam tahap pelaksanaan, sekolah menekankan tiga hal utama: kurikulum, kompetensi guru, dan budaya mutu. Kurikulum PAI di SD IT Iqra’ 1 dirancang untuk menjaga keseimbangan antara akademik, moral, dan spiritual siswa. Guru PAI diberikan pelatihan dan workshop agar terus mengembangkan kompetensi pedagogis serta mampu mengikuti perkembangan zaman. Penerapan budaya mutu juga menjadi perhatian utama. Sekolah menerapkan sistem audit internal, evaluasi berkelanjutan, serta memastikan standar mutu pendidikan dijaga di semua lini. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar memenuhi kualitas yang diharapkan. Evaluasi: Lebih dari Sekadar Akademik Evaluasi manajemen mutu PAI di sekolah ini tidak hanya fokus pada hasil ujian dan tugas akademik. Lebih dari itu, evaluasi juga menyasar sikap, perilaku, dan keterampilan siswa. Bagaimana mereka menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari menjadi indikator keberhasilan yang penting. Kualitas guru juga menjadi sorotan dalam evaluasi. Guru PAI tidak hanya diukur dari penguasaan materi, tetapi juga integritas moral dan kemampuan menjadi teladan. Evaluasi kurikulum pun dilakukan secara berkala untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar pendidikan nasional maupun standar Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Dampak: Siswa Lebih Berkarakter Islami Hasil penerapan manajemen mutu ini terlihat dari meningkatnya keterlibatan siswa dalam kegiatan keagamaan. Mereka lebih aktif dalam shalat berjamaah, menghafal Al-Qur’an, serta kegiatan sosial berbasis nilai Islam. Siswa juga menunjukkan karakter Islami yang lebih kuat, tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan rumah dan masyarakat. Guru pun merasakan manfaat dari penerapan manajemen mutu ini. Dengan pelatihan yang berkelanjutan, mereka lebih percaya diri dalam mengajar dan mampu menggunakan metode pembelajaran yang lebih menarik serta relevan. Kesimpulan dan Harapan Penerapan manajemen mutu Pendidikan Agama Islam di SD IT Iqra’ 1 Kota Bengkulu menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan Islam bisa berjalan seimbang antara akademik dan karakter. Dengan perencanaan yang matang, pengorganisasian yang terstruktur, pelaksanaan yang konsisten, dan evaluasi yang menyeluruh, sekolah ini berhasil menciptakan suasana belajar yang Islami, modern, sekaligus berkualitas. Penelitian ini menyarankan agar sekolah terus memperkuat kompetensi guru, memanfaatkan teknologi pembelajaran, serta mengembangkan evaluasi yang lebih menyeluruh pada aspek sikap dan keterampilan siswa. Harapannya, SD IT Iqra’ 1 Bengkulu dapat menjadi model bagi sekolah Islam terpadu lainnya dalam meningkatkan mutu pendidikan agama Islam. Dengan manajemen mutu yang terjaga, pendidikan agama Islam tidak hanya menjadi mata pelajaran, tetapi juga menjadi fondasi yang membentuk generasi cerdas, religius, dan berakhlak mulia. *** *) Oleh: Syukri Amin, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. *ript*

Menggugah Tradisi: Akulturasi Nilai-Nilai Islam dan Budaya Lokal Etnik Kaili Da’a Melalui Pesantren Alam

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melahirkan karya akademik yang bernilai tinggi melalui penelitian disertasi Eka Firmansyah, doktor lulusan Program Studi Pendidikan Agama Islam. Disertasi berjudul “Akulturasi Nilai-Nilai Islam dengan Budaya Lokal Etnik Kaili Da’a melalui Pesantren Alam” tersebut menyingkap dinamika dialog antara ajaran Islam dan tradisi masyarakat adat di pegunungan pesisir Kota Palu, Sulawesi Tengah. Penelitian ini menyoroti fenomena unik sekaligus menantang dalam lanskap keberagamaan Indonesia: pertemuan Islam dengan budaya lokal. Komunitas Kaili Da’a menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat adat berada di persimpangan antara modernitas dan tradisionalitas. Di satu sisi, mereka telah mengenal Islam sejak abad ke-17 berkat dakwah Syekh Abdullah Raqi. Namun di sisi lain, sistem kepercayaan animistik yang telah mengakar selama berabad-abad masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Islam yang Dinamis dan Kontekstual Eka Firmansyah menjelaskan bahwa fenomena keberagamaan di komunitas Kaili Da’a memperlihatkan realitas Islam Indonesia yang dinamis, bukan monolitik. Islam tidak hadir untuk menghapus tradisi lokal secara total, melainkan bernegosiasi dan berdialog dengan kebudayaan setempat. “Islam di komunitas ini berkembang secara organik. Bukan melalui paksaan atau dominasi, melainkan melalui proses akulturasi yang memberi ruang bagi budaya lokal untuk tetap hidup, tetapi dengan pemaknaan baru yang lebih selaras dengan prinsip Islam,” jelas Eka. Hal ini tampak dalam tradisi-tradisi adat seperti molabe dan sambulugana. Secara simbolik, bentuk ritual tetap dijalankan. Namun makna spiritual yang terkandung di dalamnya mengalami transformasi menuju nilai-nilai Islam. Proses ini menunjukkan bahwa akulturasi bukan sekadar adopsi superfisial, melainkan internalisasi mendalam yang mampu mengubah orientasi budaya. Metode Etnografi yang Menyelami Untuk menyingkap kompleksitas fenomena ini, Eka menggunakan metode etnografi. Melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan, ia berhasil menyusun narasi holistik tentang proses akulturasi yang berlangsung. Pendekatan etnografi dipandang tepat karena mampu menggali makna yang hidup dalam masyarakat. “Etnografi membuat peneliti tidak hanya mengamati perilaku, tetapi juga memahami sistem makna yang melatarbelakangi praktik keagamaan masyarakat,” ungkapnya. Dengan cara itu, penelitian ini tidak berhenti pada deskripsi fenomena, melainkan juga menggali bagaimana komunitas Kaili Da’a memaknai Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pesantren Alam: Model Pendidikan Inklusif Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah konsep pesantren alam. Model pendidikan ini berbeda dengan pesantren formal yang kaku. Pesantren alam bersifat nonformal, kontekstual, dan terintegrasi dengan budaya setempat. “Pesantren alam mengajarkan Islam dengan pendekatan yang responsif terhadap budaya. Nilai-nilai Islam disampaikan melalui praktik hidup sehari-hari, tanpa harus meniadakan identitas budaya lokal,” jelas Eka. Model ini membuat masyarakat tidak merasa terancam dengan ajaran baru, melainkan justru merangkulnya. Proses belajar tidak bersifat top-down, melainkan partisipatif. Masyarakat menjadi aktor aktif dalam mengonstruksi pemahaman Islam mereka sendiri. Hal ini menciptakan rasa kepemilikan yang kuat sehingga transformasi keagamaan lebih berkelanjutan. Implikasi Bagi Dakwah dan Pendidikan Temuan Eka Firmansyah memberikan implikasi luas, baik secara teoretis maupun praktis. Dari sisi teoretis, penelitian ini memperkaya kajian tentang Islamisasi di Indonesia, dengan menekankan pentingnya pendekatan humanis dan kontekstual. Islam terbukti memiliki kapasitas adaptif yang tinggi untuk bernegosiasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya. Sementara secara praktis, penelitian ini menjadi inspirasi bagi strategi dakwah dan pendidikan Islam di tengah masyarakat plural. Model pesantren alam menawarkan paradigma alternatif dibanding pendekatan konvensional yang cenderung seragam dan kurang sensitif terhadap keragaman budaya. “Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin seharusnya hadir dengan wajah yang ramah, inklusif, dan mampu berdialog dengan kearifan lokal,” kata Eka. Kontribusi Akademik dan Prospek Ke Depan Secara epistemologis, penelitian ini mengajarkan bahwa agama tidak bisa hanya dipandang sebagai doktrin normatif yang statis, melainkan sebagai kekuatan budaya yang dinamis. Dari sisi metodologi, studi ini menunjukkan bagaimana etnografi dapat menjadi pendekatan penting dalam memahami hibriditas keagamaan. Disertasi ini diharapkan dapat membuka jalan bagi penelitian serupa di komunitas adat lain di Indonesia. Dengan keragaman etnik dan budaya yang begitu kaya, Indonesia membutuhkan strategi dakwah dan pendidikan Islam yang sensitif terhadap kearifan lokal. Eka menegaskan, “Jika strategi dakwah mampu memadukan nilai Islam dengan budaya setempat, maka akan lahir masyarakat yang religius sekaligus tetap menjaga identitas kulturalnya.” Penelitian ini sekaligus menjadi refleksi penting bagi Indonesia kontemporer yang dihadapkan pada tantangan pluralisme dan multikulturalisme. Dengan memahami agama sebagai lived experience yang hadir dalam praktik sosial-budaya sehari-hari, maka keberagamaan di Indonesia dapat terus berkembang secara inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan. *** *) Oleh: Eka Firmansyah, Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. *ripto*

Transformasi Kelembagaan Pendidikan Agama Islam di Natuna

Umar :Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, menyoroti dinamika perubahan kelembagaan Pendidikan Agama Islam di Kabupaten Natuna melalui disertasinya yang mendalam. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keresahan akan pentingnya adaptasi lembaga pendidikan Islam terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat perbatasan. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif berparadigma kritis-transformatif, UMAR menelusuri perjalanan pendidikan agama Islam di Natuna dari rumah-rumah atok Imam, masjid, madrasah, hingga integrasi dalam bentuk boarding school dan lembaga terpadu. Transformasi ini mencerminkan respon terhadap panggilan budaya, kebijakan pemerintah, serta kebutuhan masyarakat akan pendidikan religius yang selaras dengan tuntutan era modern. Temuan pentingnya adalah terbentuknya SMP berbasis pesantren Nurul Jannah pada 2014, sebagai simbol integrasi pendidikan umum dan agama. Harapannya, hasil riset ini bisa memperkuat eksistensi pendidikan Islam di Natuna dan menjadi rujukan strategis bagi pengambil kebijakan daerah serta peneliti selanjutnya.(ript)

Integrasi Agama dan Sains, Gagasan Said Nursi Menginspirasi Pendidikan Islam Masa Depan

Ana Maulida Sabila, Mahasiswa Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang. Malang — Diskursus hubungan agama dan sains tengah menjadi perdebatan penting di kalangan cendekiawan Muslim. Said Nursi (1877–1960) tampil sebagai tokoh yang mampu menjembatani keduanya, saat sains modern dianggap menjauh dari aspek moral dan spiritual. Nursi menawarkan pendekatan integratif yang diberi nama ma’na harfi dan paradigma tauhid. Dalam visi Nursi, agama memberikan landasan moral, sedangkan sains menyediakan penerapan praktis, sehingga proses belajar tidak terjebak pada materialisme, tapi juga menjaga aspek manusiawi dan ruhaniah. Selain pendekatan teoritis, Nursi juga menggagas Madrasah Al-Zahra, sebuah lembaga yang menyatukan ajaran Islam, sains, dan teknologi, untuk melahirkan manusia unggul yang unggul secara intelektual sekaligus manusiawi. Model Nursi tersebut masih relevan diterapkan saat ini, di tengah tantangan era digital dan postnormal yang tengah terjadi. Kalangan akademisi menyebut pendekatan Nursi sebagai solusi penting untuk menjaga visi manusiawi, moral, dan etika, sambil tetap terbuka terhadap kemajuan teknologi dan sains modern.(ript)

Kapal Garden UMM Tawarkan Nuansa Iftar di Kapal Pesiar

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum spesial yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Bagaimana tidak, di bulan ini bertebaran kebaikan dan keberkahan dilipatgandakan. Untuk itu, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H, Kapal Rooftop Cafe gelar launching menu dengan tema “Rasa Ramadan”. Acara yang dilaksanakan pada 21 Februari lalu tersebut dihadiri oleh para rekan tamu undangan dari berbagai elemen kalangan masyarakat yang berkesempatan juga menikmati hidangan. Uniknya, dibalik pemilihan diksi tema yang fresh, Manager Kapal Garden Hotel by UMM, Teguh Hadi Saputro menjelaskan bahwa ada makna yang terkandung dalam tema makanan itu. Yakni kehangatan, kebersamaan, dan kebahagiaan dibalik berbagai cita rasa menyambut bulan suci Ramadan. “Tujuan utama kami adalah konsep berbuka puasa di kapal. Selain itu, khusus acara ini kami menghadirkan berbagai sajian menu primadona dengan nuansa bak berbuka di deck atas kapal pesiar. Harapannya hal-hal ini nantinya siap menemani waktu berbuka puasa para tamu hotel maupun para pengunjung,” ungkapnya Dibandingkan hanya memilih satu tema sajian menu, Teguh menyebut pelayanan mereka tetap menonjolkan ciri khas Kapal Rooftop dengan variasi menu Nusantara, Chinese, Timur Tengah, dan Western. Mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Di antaranya rendang, gado-gado, nasi kebuli, puding, kolak, dan masih banyak lagi. Menariknya, penawaran tersebut bisa dinikmati oleh semua kalangan dengan range budget yang bervariatif dari low hingga high budget. Sajian-sajian menu dan pengalaman ini tentunya hanya bisa dinikmati di Kapal Garden Hotel dan Café. “Selalu ada penawaran eksklusif untuk momen spesial. Untuk itu, kami sediakan pilihan berbagai paket yaitu, ala carte, paket grup, dan buffet. Paket grup Rasa Berlima start from 150.000 untuk 5 orang. Kemudian, promo buffet early bird start harga mulai 65.000/pax dengan estimasi reservasi sampai 10 Maret 2025. Serta, regular buffet start from 75.000 minimal pemesanan 20 pax. Kami sangat berharap masakan dan experience berbuka puasa di Kapal Rooftop Cafe bisa dinikmati oleh semua kalangan,” jelas Chef Kusmawardi. Zafira Auzia Najwa sebagai pengunjung mengaku sangat menikmati bersantap menu Rasa Ramadhan di Kapal Rooftop Cafe. Selain menu yang disajikan fresh, di sana ia bisa menikmati view semi alam yang khas, serta interior dan pelayanan yang memorable layaknya sebagai penumpang kapal pesiar. Di samping itu, ia menyebut rasa masakan nusantara yang dibuat tim Kapal juga lezat dan authentic. Menurutnya, pelayanan yang memuaskan didukung juga dengan kebersihan tempat dan makanan yang sangat baik cocok untuk event berbuka bersama teman-teman dan keluarga. (din/wil)

Semarak Ramadhan di UMM: Memahami Peran Budaya dalam Dakwah Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Semarak Ramadhan yang penuh keberkahan selama bulan Suci. Salah satu acaranya yakni Pengajian Ramadhan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), yang digelar pada 5 Maret 2025. Dalam kesempatan ini, UMM menghadirkan tokoh Muhammadiyah Dr. H. Agung Danarto, M.Ag.. yan menyampaikan tema menarik ‘Membumikan Dakwah Kultural Muhammadiyah”. Dalam pengajiannya, Danarto menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi warga Muhammadiyah dalam mengimplementasikan tradisi budaya dalam kehidupan beragama. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang salah kaprah dalam memandang budaya. Menganggap keterlibatan budaya dalam agama dapat menimbulkan unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat. Akibatnya, banyak yang menjauhi budaya, bahkan menjadi anti budaya. Terdapat dua aliran dalam Islam yang berpengaruh terhadap pandangan ini, yaitu puritanisme yang dipelopori oleh Muhammad Ibnu Wahab, dan Islam Modernisasi yang diprakarsai oleh Muhammad Abduh. “Islam puritan menekankan pada penghapusan segala hal yang berhubungan dengan tradisi dan budaya, dan kembali meniru apa yang ada pada masa Nabi dan sahabat. Dalam pandangan mereka, tradisi yang tidak ada pada zaman Nabi dianggap sebagai bid’ah,” jelasnya. Di lain sisi, Danarto juga menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh kaum modernasi dalam Islam adalah dengan meneliti hadist-hadist Nabi, memverifikasi keasliannya, dan hanya mengamalkan yang dinyatakan shohih. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar umat Islam dapat menerapkan etika, moral, dan tradisi pada masa Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menekankan bahwa istilah bid’ah atau inovasi tidak seharusnya digunakan untuk menolak segala bentuk perkembangan dalam masyarakat, termasuk pengetahuan, filsafat, dan ilmu politik. Bid’ah harus dipahami dalam konteks nilai-nilai dasar, moral, dan karakter yang terkandung dalam ajaran Islam, bukan pada bentuk atau praktiknya saja. “Merujuk pada surat Al-Hujurat ayat 13, eksistensi berbagai budaya, suku, dan bangsa, dan menekankan bahwa budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam harus diterima dan dihargai. Budaya bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan harus dipahami dan diselaraskan dengan ajaran Islam,” jelasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., CA., menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bisa berdakwah melalui ceramah atau tabligh, tetapi juga dapat melibatkan budaya sebagai sarana dakwah. “Muhammadiyah dapat berdakwah melalui budaya dengan mentransformasi nilai-nilai yang sudah ada dan mengemasnya dalam konsep yang lebih berkemajuan, Melalui budaya yang berkemajuan, dakwah Muhammadiyah akan semakin menarik bagi banyak orang. (nam/wil)

Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah jadi Konsen Muhadjir Effendy

Di tengah perkembangan pesat dunia bisnis, Muhammadiyah menyadari pentingnya perubahan mindset, terutama dalam melihat bisnis sebagai sarana yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah. Hal itu ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Efendy, M.A.P. dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Agenda diselanggarakan pada 26 Februari 2025 itu berlokasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dan terus mendorong perubahan dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi. Menurutnya, banyak warga Muhammadiyah yang masih memandang dunia usaha dengan skeptis, menganggapnya “kotor” karena adanya praktik kecurangan dan permainan dalam perdagangan. Oleh karena itu, Muhammadiyah bertekad untuk mengubah pandangan ini dan menciptakan peluang bisnis yang mengutamakan etika, kejujuran, dan prinsip agama yang kuat. Muhadjir mengatakan, konsep kapitalisme religius menjadi landasan utama dalam pembangunan ekonomi ini. Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa bisnis tidak harus berseberangan dengan nilai-nilai agama. Kapitalisme yang dibangun dengan etika agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah berusaha menumbuhkan para kapitalis yang sangat agamis, dan memiliki tanggung jawab sosial dan moral dalam setiap langkah bisnis yang diambil. Serta menekankan pentingnya pemahaman bahwa bisnis harus dijalankan dengan landasan etika yang kuat. “Kapitalisme yang lahir dengan prinsip agama yang kuat tidak hanya menguntungkan, tetapi juga membawa berkah bagi umat,” ujarnya. Di sisi lain, pembinaan birokrasi Muhammadiyah juga menjadi fokus penting. Untuk merespons dinamika zaman yang terus berubah, organisasi ini menyadari bahwa birokrasi yang kaku tidak lagi efektif. Oleh karena itu, Muhammadiyah berkomitmen untuk membangun sistem yang lebih fleksibel dan inklusif, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan, serta mendukung keberlangsungan bisnis dan usaha yang dijalankan. Salah satu inovasi menarik adalah dalam hal kepemilikan bisnis. Muhammadiyah menyadari bahwa bisnis yang sukses tidak hanya dapat dimiliki oleh pengurus organisasi, tetapi juga bisa dibagi dengan warga Muhammadiyah atau mitra yang terlibat. Hal ini membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam ekonomi, tidak hanya dalam skala individu tetapi juga secara kolektif. Ini adalah salah satu langkah penting untuk memastikan bahwa bisnis Muhammadiyah dapat berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. Peluang lebih besar hadir dalam dunia ritel, yang diharapkan menjadi tempat distribusi utama produk-produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan adanya outlet ritel, produk dari UMKM warga Muhammadiyah dapat lebih mudah diakses, memberikan peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal. Tentunya, produk yang dijual harus memenuhi standar kelayakan, baik dari segi kualitas maupun kemasan. Jika ada produk yang belum memenuhi standar, outlet memiliki kewajiban untuk membina produk tersebut agar dapat lebih diterima di pasar. “Kemudian kita mengontrol sendiri sirkulasi barang yang ada di Mentari Mart, tanpa ada campur tangan dari pihak manapun dan diatur oleh manajemen Muhammadiyah,” jelasnya. Sebagai contoh, bisnis pada sektor kesehatan yakni infus Suryavena yang diluncurkan oleh Muhammadiyah yang menawarkan produk infus dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk memastikan kesuksesan distribusinya, peta geospasial akan digunakan untuk mengukur kelayakan wilayah yang potensial untuk mendirikan outlet, sehingga mengurangi risiko kebangkrutan. Dalam hal pemberdayaan, Muhammadiyah juga memperhatikan pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi SMK Muhammadiyah jurusan perniagaan. Mereka akan diberdayakan untuk menjadi tenaga kerja terampil di berbagai bisnis yang didirikan, seperti di outlet Mentari Mart yang akan segera hadir. “Saya mempunyai mimpi bahwa sosial enterprise dapat menjadi prioritas utama dalam ekonomi kita di kemudian hari, setelah BUMN, Swasta, Koperasi, dan Bisnis Sosial,” ujarnya. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Muhammadiyah berupaya untuk menciptakan perekonomian yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan membawa kesejahteraan bagi warganya dan masyarakat luas. Muhammadiyah terus berupaya untuk tidak hanya menjadi organisasi yang besar, tetapi juga menjadi pendorong perubahan sosial dan ekonomi yang dapat membawa kesejahteraan bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan semangat kapitalisme religius, pembenahan birokrasi, dan pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah bergerak untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, berkeadilan, dan penuh berkah. (nam/wil)